Mengenal Lebih Jauh Desa Wisata Tenganan Bali

Mengenal Lebih Jauh Desa Wisata Tenganan Bali. Jejak masa lalu disebut kenangan, itu tidak akan bertahan selamanya jika tidak dicatat dengan baik di hati. Penduduk desa Tenganan Pegringsingan percaya bahwa leluhur mereka adalah tentara. Terlahir dari garis keturunan ksatria pemuja Dewa Indra, mereka sangat memuja awig-awig.

Desa Wisata Tenganan
Desa Wisata Tenganan

Tata letak Desa Wisata Tenganan juga menganut konsep menjaga satru (menjaga dari serangan musuh) dengan bukit sebagai benteng alami. Empat gerbang desa atau lawangan masing-masing menghadap ke arah angin seolah bersiap dari serangan musuh di tempat wisata ini.

Matahari tidak terlalu tinggi ketika saya menjejakkan kaki di desa Tenganan Pegringsingan, kabupaten Manggis, kabupaten Karangasem. Patung dua orang yang bersaing dalam perang pandan mengingatkan akan keragaman seni bela diri nusantara yang kaya.

Namun bagi masyarakat Tenganan, perang pandan bukan hanya pertempuran kekuatan. Ritual ini merupakan bentuk pemujaan kepada Dewa Indra dan pengabdian kepada leluhur atau ngayah. Tidak ada dendam setelah pertarungan berdarah yang sengit, yang tersisa hanyalah bekerja bahu membahu untuk mengobati luka dan membersihkan keringat atau darah yang mengalir. Sikap kebersamaan, gotong royong, dan sportif memang menjadi ciri khas seorang pejuang sejati.

Waktu tampaknya berputar lambat ketika berjalan lebih jauh di sepanjang jalan desa. Atap ijuk dengan tiang kayu mendominasi hampir semua bangunan di sini. Namun yang paling menonjol adalah grand bale. Bangunan terbuka memanjang tanpa dinding adalah ruang pertemuan bagi penghuni yang sudah menikah. Bagi mereka yang belum menikah ada bale truna dan bale dahe.

Cabang kamboja di halaman kuil berlari seolah-olah mencapai ruang, ia menjulang tinggi di antara cabang-cabang besar. Tidak pernah ada cabang atau cabang yang dipaksakan rusak.

Saya belum memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ini lebih lanjut antara obrolan dengan para pria di bale. Seorang pria dengan wajah sopan menyambut saya, memperkenalkan dirinya sebagai Ketua Desa Adat di Tenganan. Melihat wajahnya, usia Ketut Sudiasdika mungkin hanya mencapai kepala empat. Pada usia muda itu ia telah menjadi pemimpin desa yang dengan kuat memegang adat.

Bagaimana Keadaan Alam di Desa Wisata Tenganan?

Alam dan Orang Tenganan

Awig-awig mengatur hubungan manusia dan alam dengan sangat baik. Filosofinya adalah bahwa manusia dapat memiliki segalanya tetapi hanya boleh mengambil cukup. Sebagai contoh, hanya cabang-cabang pohon yang tumbang di tanah yang dapat digunakan untuk kayu bakar. Jadi bisa dibayangkan betapa sulitnya menebang pohon di sini. Ya itu benar, harus ada persetujuan dari semua warga negara melalui musyawarah bersama.

Ada juga beberapa jenis tanaman yang hanya bisa digunakan jika sudah jatuh ke tanah seperti durian, kemiri, kluwak dan treep, dan unik bagi siapa saja bisa menggunakannya walaupun bukan pemilik tanah.

Jenis tanaman yang berbeda adalah aturan yang berbeda, seperti tidak diperbolehkan mengambil dua kelapa dari pohon yang sama atau dua bambu dari keluarga yang sama. Semua peraturan bertujuan untuk menjaga keseimbangan manusia dengan alam tanpa eksploitasi berlebihan.

Perkawinan dan Rumah Tangga

Bagi saya yang masih lajang (baca: belum menikah) diskusi tentang pernikahan adalah hal yang menarik. Meskipun mereka mematuhi sistem indogami, mereka hanya diizinkan menikahi orang-orang dari Tenganan. Tapi tradisi inilah yang membuat adat Tenganan tetap hidup. Karena status pernikahan terkait dengan status tradisional masyarakat Tenganan.

Ritual pernikahan Tenganan tidak tahu mas kawin. Dikatakan bahwa memberi mas kawin kepada pengantin wanita merendahkan martabat kaum wanita. Mereka sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender antara pria dan wanita. Sehingga dalam hukum waris perlakuan antara laki-laki dan perempuan adalah sama.

Baca Juga : Wisata Religi di Masjid Agung Baiturrahman

Poligami dan perceraian juga tidak diizinkan di sini karena mereka melanggar awig-awig. Tetapi yang mengejutkan saya adalah bahwa jika ada pasangan muda yang baru saja menikah dalam waktu tiga bulan, mereka tidak memiliki rumah. Kemudian adat akan memberikan tanah untuk pembangunan rumah.